Tsunami & Surat dari Aceh
Wednesday, January 12, 2005

Tadi pagi aku dikasi tahu my second cousin kl mertua cousin-nya dia,(jadi ke aku nya second cousin) dan kelg mertuanya semua hilang disapu tsunami...
Duh..terhenyak juga (sekali lagi)...dulu2 juga udah rasa sedih gimana gitu....skrg wlp gak kenal dan gak pernah ketemu tp ya ada sedikit related bikin gua lebih terharu ...
Aku sih cuma kenal my second cousin itu, istrinya aja ngga pernah ketemu...tp kebayang juga kan , kasian istrinya kehilangan ibu, 2 sdr perempuan dan keponakan 3 th.........
Semoga Tuhan memberi kekuatan pada kelg-nya ..........

Hari ini aku terima email yg isinya surat dr Aceh,...menyentuh sekali...semoga belum terlalu terlambat utk dibaca :

1. Celana Ini Sudah Kupakai Enam Hari
Aku juga tidak tahu kenapa aku tiba2 ada disini. Semuanya berjalan
seperti sudah ada yang mengatur. Pertama kali kudengar ada musibah ialah
ketika teman lama, teman seperjuangan yang kini tinggal di Medan
menelponku. Memang aku sudah dengar dari radio dan melihat dari televisi
ada gempa kuat di Sumatra Utara, tapi teman tadi memberitakan bahwa
keadaan memang parah dankelihatannya mereka membutuhkan bantuan. Kala
itu tanggal 26 sore...Kami berinisiatif mengontak teman2 lain yang masih
dapat dihubungi, dan ternyata sebagian besar dari mereka juga berpikiran
sama dan memang siap berangkat.

Kami berangkat segera dengan bekal seadanya, apa yang bisa kami bawa ya
kami bawa. Aku dan beberapa kawan menempuh perjalanan dengan bis dan
sampai di Banda Aceh tgl 27 sore. Keadaan sungguh mencengangkan dan
sangat menyayat hati. Kami memberikan bantuan sebisanya, dan mulanya
tidak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya aku digabung dengan pasukan
TNI dan ditugaskan ke Arongan (? sampai tidak kepikir dimana batas
kotanya, hampir semua rata dengan tanah), kira2 di Aceh Barat beberapa
km dr Meulaboh. Aku dan
beberapa relawan lainnya diangkut dengan helikopter karena jalan darat
sangat tidak memungkinkan. Sesudah turun dari helikopter juga masih
harus berjalan kaki berkilo-kilometer jauhnya. Keadaan yang tragis, dan
sungguh memilukan. aku ditempatkan di Posko, merawat orang yang luka2,
dan juga siang hari ikut evakuasi mayat-mayat. Aku menemukan seorang
mayat ibu yang masih menggendong anaknya, tertutup lumpur, dan juga
beberapa kali menurunkan mayat seseorang yang tersangkut di pohon. Juga
ketika mendapat bantuan buldozer, kami mendapati di bawah mobil yang
tertutup onggokan kayu ada seorang ibu dan anaknya, kira-kira 3 tahun
umurnya, masih hidup, sedang seorang anaknya lagi yang berusia sekitar 5
tahun, telah meninggal dengan kaki yang patah..Sedih sekali
menyaksikannya..

Tanggal 31 Desember, ketika malam Tahun Baru, aku berhasil mengontak
kamu, mbak, duh senangnya.. aku agak lega karena bisa membagi cerita
sedih yang ada disini. Selama 3 hari lebih aku tidak mandi, dan makan
juga seadanya, hanya sedikit roti kering . Seperti kuceritakan di sms,
bantuan sangat minim, dan terlambat. Keadaan kacau balau. Di Posko masih
lumayan bisa charge HP sebentar2, karena ada generator kecil. Tapi malam
sangat dingin dan sangat gelap, kukira bantuan selimut sangat dibutuhkan
karena umumnya
mereka tidur di alam terbuka. Semalaman selalu terdengar anak-anak kecil
menangis karena kolik, dan orang-orangtua menangis dan meratapi nasib
dan sanak saudaranya yang hilang. Banyak nyamuk, kurang air bersih,
sehingga ditakutkan wabah segera menyerang. Obat2an sangat penting, juga
peralatan medis yang pokok, seperti infus. Masker yang biasa sudah tidak
mempan lagi, karena bau mayat yang beribu2 sudah sangat menyengat.
Selamat tahun Baru!

Sabtu, tgl 1 Januari
Tiap hari mengevakuasi mayat2. Hari ini menyusul 1800 orang
meninggal.Sebagian dikuburkan masal, sebagian lainnya belum. Jumlah
Posko ada beberapa, dan pengungsi juga banyak, ratusan, bahkan ribuan
orang yang kelaparan. Banyak diantara mereka anak-anak juga. Melihat
mereka, hatiku seperti diiris-iris.Tapi hari ini mulai membaik, meski
masih makan mie.Aku siang tadi sedang menurunkan logistik, waktu Mbak
telpon.Obat2an sangat sedikit, butuh kaos tangan,masker, alat2
kedokteran, karbol, selimut, tikar. Relawan sangat sedikit jumlahnya
dibanding pekerjaan yang harus dilakukan.
Hari ini sudah datang beberapa orang suster dari Palembang daN beberapa
relawan dari Jogja. Tapi banyak dari yang selamat mempergunakan
kesempatan. Untuk membantu mengambil mayat saja, mereka memaksa minta
uang.Memang, perut lapar..

Minggu, 2 Januari.
Banyak relawan perempuan terutama, pingsan, tidak tahan melihat
semuanya.Memang, butuh ketahanan fisik dan mental yang luar biasa untuk
membantu mereka disini. Kita harus membantu, bukannya malah menjadi
beban, bukan? Tapi kuakui, beban mental sangatlah besar, menyaksikan
mereka semua yang hidup sudah setengah gila,dan keadaan sekitar yang
hampir2 rata dengan tanah,berlapis lumpur dan dimana-mana genangan air.
Belum lagi kalau malam tiba, keadaan sangat gelap, dan yang kedengaran
hanya ratapan dan tangisan.
Bajuku sudah tidak layak pakai, celana belum ganti sejak hari pertama,
dan baju juga dapet ambil dari bantuan baju bekas yang datang. Kalau
malam aku suka berjalan2 sendiri, menjauh dari Posko, biar sejenak tidak
mendengar ratapan dan tangisan mereka. Ini ada tentara yang memberi aku
sebatang rokok.

Hari ini evakuasi mayat-mayat di daerah Lhok Nga, juga dekat
pasar.Napasku agak sesak karena baunya menyengat sekali ditambah hujan
gerimis yang membuat mayat-mayat cepat busuk. Mbak, menyedihkan..
Mayat-mayat bertumpuk-tumpuk, sudah tidak keruan bentuknya, dan jika
diangkat sudah terlepas bagian2 tubuhnya. Dan tahukah, hari ini ada 2
orang ibu yang melahirkan. Ya, aku tadi menolong persalinan
dua orang ibu, dibantu suster. Pengalaman pertamakali (dulu hanya dapat
teori sbg pelajaran dasar kedokteran) aku membantu dan berlangsung
secara otomatis saja. Yang mengharukan, kedua bayi perempuan itu lahir
dengan selamat, dan kedua ibu itu menamai bayi mereka dengan namaku.
Josephina (namaku Joseph). Aku sangat terharu. Waktu tadi mengevakuasi
mayat di sebuah gereja yang sudah sangat hancur, kami menemukan sesosok
mayat yang masih memegang rosarionya. Tanpa sadar kuraba kantong
celanaku, oh, rosarioku
masih ada. Itu rosario pemberianmu dan tidak sengaja terbawa dan
sekarang menjadi sumber pengharapan dan kekuatanku.

2. Rinduku Menetes Sebanyak Tetes Gerimis

Senin, 3 Januari 2005
Hari ini lumayan dapat sarapan bubur sebelum berangkat. Bantuan Logistik
sudah mulai memadai. Kami hari ini harus mengevakuasi mayat-mayat di
dekat bekas alur sungai, seharian naik perahu karet, capek sekali, hanya
dapat 152, dan jenasahnya langsung dikuburkan. Tidak terbayangkan
beratnya mengangkat mayat satu-persatu. Pakaian kotor semua, kena lumpur
dan mayat-mayat. Jika tidak ingat akan kesehatanku sendiri, aku sudah
tidak hendak makan! Di LHok Nga, semua rata dengan tanah, seperti tidak
ada kehidupan lagi, dimana-mana genangan air dan sejauh mata memandang
warnanya kelabu, hitam, karena berselimut lumpur. Mayat-mayat dilempar
ke dalam truk,
ada puluhan, lalu ditumpahkan begitu saja, dan ditimbun. Tidak peduli
siapa dia sebelumnya. Hanya bangkai. Rasanya, disini manusia sudah tidak
ada harganya. Kemanakah AKU?

Banyak relawan yang jatuh sakit, terutama karena tekanan mental. Malam
ini tidak ada sinyal rupanya, dan aku jalan-jalan sendiri malam-malam,
menjauh dari posko. Aku sedikit kangen rumah, dan tanpa sadar meraba
rosarioku. Ingat sekilas, di suatu senja saat ziarah ke sebuah Gua
Maria, aku menyalakan sebatang lilin. Terang sekali nyalanya di malam
yang gelap. Seperti saat ini, aku ingin memandang nyala lilin dan
berlutut di depan Gua Maria. Sepotong senja dengan nyala lilin yang
terang, kukira sekarang itu yang didambakan rakyat Aceh...menjaga lilin
agar tetap menyala. Oh, batere hampir habis...! Sulit untuk charge HP,
karena semua terpakai, dan kami harus hemat BBM. Jadi gantian tidak bisa
lama-lama.

Selasa, 4 Januari 2005
Pagi ini mau briefing, sudah sarapan mie, dan hanya bisa cuci muka saja.
Dan masih ngantuk, karena semalam jaga terus. Kami standby 24 jam. Tidak
jarang tengah malam ada yang teriak-teriak, atau merintih
kesakitan.Semalaman selalu terdengar tangisan bersusulan tiada henti.
Pagi ini kami harus memberikan imunisasi ke Bireun dan Sigli, karena
beberapa orang sudah mulai terkena wabah, diare dan infeksi saluran
pernafasan. Tim evakuasi masih meneruskan pencarian jenasah di sekitar
Lhok Nga, karena masih banyak mayat, terutama di sungai-sungai dan
reruntuhan. Obat-obatan dan tenaga medis sangat terbatas. Aku berangkat
dengan Heli yang hanya satu itu, jadi ada relawan lainnya
yang harus berangkat dengan team evakuasi jenasah. Lamanya waktu untuk
merehabilitasi Aceh hampir sama dengan waktu penyembuhan
mereka yang mengalami depresi pasca bencana, ada yang sepanjang hari
berteriak dan menangis. ketakutan makin bertambah karena adanya isu
kalau anak-anak mereka akan diculik atau diambil untuk diadopsi..

Siang ini aku sudah jalan ke daerah Aceh Jaya. Kalau ada pembagian,
makanan dan baju, selalu rebutan, bahkan bertengkar, mereka menderita
depresi berat... Di Posko, satu persatu meninggal. Kemarin ada yang
meninggal karena serangan jantung. Disini, ribuan orang berjalan kaki
mau menuju ke Aceh Besar.Ada yang sudah 2 hari 2 malam berjalan kaki
tanpa makan dan minum, di atas jalan setapak yang licin dan becek. Malam
gelap dan tanpa bekal apa-apa,anak-anak menangis. Ini pinjam handset
teman untuk mengabarimu, mbak. Batereku habis. Sekarang jam 19.30 malam,
baru mau pulang ke Posko. Tadi sore ada 3 orang meninggal karena trauma
peradangan dan diare, dan satu meninggal karena gegar otak berat. Sedih
juga, aku sudah semampuku... . 22.00. Baru sampai di Posko.Tadi di jalan
ada hambatan dari GAM. Terjadi kontak senjata tapi semua baik-baik saja.
Kemarein, beberapa tempat di jalan protokol juga terjadi penjarahan.
Banyak orang mencari pakaian bekas. Tapi semua terkendali.

Hari ini ada air, meski jatah untuk mandi sangat-sangat terbatas.
Peralatan mandiku masih cukup, tapi harus bongkar baju bekas dulu.
Boleh, kan ? Siapa tahu, itu barang yang kamu sortir dr Jakarta ? Kali
ini ada sop...Malam ini kututup dengan doa rosario. Terimakasih,mbak,
Tuhan beserta kita, dahulu, sekarang dan selamanya. Ingatlah bila hari
hujan, rinduku, rindu rakyat Aceh pada alam yang indah menetes sebanyak
tetes gerimis......

3. The Day After

Rabu, 5 Januari
Pagi ini mendung. Tapi sudah tidak ada lagi jenasah yang berserakan di
jalanan. Sebagian besar sudah ditimbun dalam kubangan-kubangan besar.
Kemarin, 9 relawan dari kelompokku tidak pulang ke posko karena gantian
jaga di poliklinik. Hari ini aku dan beberapa lainnya bertugas
menggantikan mereka. Sudah ada beberapa kawan relawan yang jatuh sakit,
karena terlalu lelah. Ada juga yang relawan yang stress, beberapa hari
tidak mau makan, dan setiap kali dipaksakan, selalu dimuntahkan kembali.
...Ya, kami sudah sepuluh hari di sini...., dan kamu mungkin sulit
mengenaliku jika kita nanti bertemu, Mbak. Hampir seperti pengungsi,
jika aku tidak mengenakan
baju dokter yang sudah lusuh itu.

Ada kopi dan mie, harus cukup mengganjal perut sampai lepas tengah hari
nanti. Sekarang sedang menunggu truk dan heli, yang akan mengangkut kami
ke pos-pos pengungsian yang tersebar di beberapa titik. Team evakuasi
masih akan menyisir mayat-mayat di sepanjang pertokoan.Tenaga relawan
medis masih kurang, mengapa kamu mengatakan terlihat banyak tenaga medis
dari negara lain? Mungkin belum sampai ke sini... Kami sekarang sedang
kerja keras menyelamatkan mereka yang masih hidup, dan yang bertahan
hidup dalam penderitaan akibat trauma, fisik dan batin. Gegar otak,
infeksi saluran pernapasan,diare dan muntah, demam tinggi hingga kejang,
sakit kulit, luka menganga terinfeksi hingga paru-paru yang kemasukan
lumpur... Tak ada air, tak cukup apa-apa. Mbak, baru kusadari, begini
rapuhnya
manusia. Aku harus memalingkan muka setiap kali aku menyaksikan mereka
satu-persatu pergi, diiringi tatapan kosong atau tangisan memilukan...

Dari jam 12 siang sampai sekarang (15.12) orang masih antri untuk sesuap
nasi. Ribuan orang merasa putus harapan, dan akal sehat hanya sampai
pada berebut pakaian dan makanan. Banyak yang tidur di alam terbuka, dan
mereka sangat butuh selimut. Banyak juga yang akan pergi mengungsi ke
Aceh Besar. Aku bertemu dengan seorang Camat dari Kreung Sabee,
menurutnya, warganya sekarang hanya tinggal sekitar 20.000-an dari
75.000. Hancur, habis. Memberikan semangat kepada mereka rasanya seperti
sedang berorasi untuk berdemo : "Hidup harus terus berlanjut apapun yang
terjadi !".
Ternyata lumayan ampuh ! Mungkin juga karena mulai musim hujan, sebagian
ada yang mulai berbenah dan mendirikan bangunan, meskipun hanya sekedar
untuk berteduh dan dan beristirahat di malam hari. Menjelang senja aku
sampai di Aceh Jaya, kota bandar yang sekarang rata dengan tanah,
menyisakan luka dan air mata...

Kamis, 6 Januari 2005

Selamat pagi! Bagaimana kabarmu, Mbak? Semalam aku tidak bisa tidur,
banyak sekali nyamuk dan hujan gerimis. Kepalaku pusing dan aku mulai
demam. Sejujurnya, disini tidak ada selera makan. Tapi pikiran harus
dihilangkan, dan tetap harus makan. Kalau tidak dipaksakan maka tidak
akan bisa makan. Aku ada di Klinik Posko saja, memberi imunisasi dan
pengobatan pada pengungsi. Team medis yang lain ada yang ikut evakuasi
ke daerah pertokoan lagi. ( kemarin dapat 200 jenasah). Kepalaku agak
berat. Untungnya ada beberapa relawan datang membantu, kalau tidak salah
suster-suster dari ordo Ursulin.
Hari ini panjang sekali. Tengah malam selalu saja ada yang menangis
histeris dan bicara sendiri. Setiap saat anak-anak menangis dan
menjerit. Semakin hari semakin banyak orang yang mengoceh sendiri sambil
menyebut-nyebut "laut" atau nama-nama anggota keluarganya. Seperti
dugaanku, banyak orang mulai hilang ingatan. Mereka mengalami luka
batin, penyembuhan traumanya bisa sangat lama, tidak hanya fisik tapi
juga psikis. Mungkin harus dibangun semacam "Trauma Center" atau
"Therapy Center".

Terbayangkankah olehmu, Mbak, bagaimana ribuan orang yang putus harapan
harus hidup? Miskin papa, tidak ada tempat labuhan hati. Habis sudah
semuanya. Di mata mereka hanya tersisa genangan air...Dan sebentar lagi
musim hujan akan datang. Tidak ada tempat berteduh yang layak, tanaman
tak tumbuh, dingin. Bongkahan tulang belulang mulai melebur dengan
tanah. Meresap ke dalam air, dan mereka mengambilnya untuk mandi,
mencuci dan minum. Seakan akan mereka ingin menyatukan diri, hampir tak
ada bedanya mati dan hidup.

The Day After.

Malam ini hujan mendaraskan airnya, dan jatuh bersusulan ke tanah.
Ditangkap pada tangan-tangan hampa yang meleleh di sela kerutan
wajah... Menangis...., karena badai telah membawanya pergi.... Selamat
malam, Mbak, aku sudah minum obat...

4. .. yang Terakhir...

Jumat, 7 Januari 2005
Hari di sini dimulai sejak tengah malam. Dua orang pasienku baru saja
meninggal dunia, karena trauma organ bagian dalamnya. Padahal akan
dibawa ke rumah sakit Medan malam ini juga.Sesak napas, karena lumpur di
paru-parunya. Sedih sekali, yang seorang masih anak-anak, dan tak punya
siapa-siapa. Aku dan teman-teman sudah berusaha, ...tapi akhirnya
meninggal juga. Ya, anak-anak dan orang lanjut usia paling rentan
terhadap penyakit. Apalagi kalau ada yang kritis, harus selalu dijaga,
karena keadaan drop bisa terjadi setiap saat. Aku baru selesai memasang
selang pernapasan bagi seorang bayi berumur sekitar 11 bulan. Bayi ini
masih dalam keadaan kritis. Bersama dengan ibunya yang telah meninggal,
ia ditemukan telah terperangkap beberapa hari diantara reruntuhan
rumahnya. Bayi ini lucu sekali,
tangannya......menggenggam jariku, seakan ingin berkata padaku :
"Tolong, jangan tinggalkan aku....." Biarpun anak-anak bermain dan
tertawa-tawa, sinar mata mereka memancarkan ketakutan, kesedihan dan
schock yang mengguncangkan pikirannya. Sekarang aku sedang membagikan
obat-obatan yang harus diminum dan mengganti perban. Lalu menyuntik
sebagian orang dengan serum anti tetanus untuk luka-lukanya. Seorang
anak membutuhkan perhatian lebih, karena tengkorak kepalanya hampir
lepas terhantam kayu, sedang satu rusuknya dan tulang kakinya patah, dan
dia tak punya siapa-siapa lagi.

Aku tidak apa-apa, Mbak, semalam ada teh hangat dan biskuit. Demam sudah
turun dan ibu telepon karena mengkhawatirkanku. Ya, aku harus semangat
dan tidak boleh sakit. Pagi ini juga dapat ransum susu dan sereal.
Sekarang aku akan antri untuk mandi, karena mandi terakhir sudah dua
hari yang lalu. Air bersih masih sulit didapat dan sangat terbatas. Aku
beruntung, mendapat baju ganti yang bersih dan sekotak pakaian dalam,
isinya tiga lembar..

Ada tugas baru, relawan yang sehat diminta untuk ikut pergi ke daerah
pedalaman. Ada beberapa daerah yang masih sulit dijangkau karena jalan
darat terputus sama sekali. Jadi aku bersiap-siap untuk pergi ke desa
Woyla dan Cot Sukon (sekarang ada di Arongan). Sambil menunggu team, aku
teringat kalau hari ini adalah Jumat pertama. Biasanya aku selalu datang
ke kapel di dekat rumah. Sejenak aku teringat pulang. O ya, awal Januari
ini ada ujian.Tapi tak apa, disini aku juga banyak belajar, belajar
bertahan hidup, belajar memahami arti hidup, dan terutama belajar bahwa
Tuhan sungguh hidup dan berada di atas segala-galanya. Mbak, jika sore
ini ke Gereja, mohon panjatkanlah doa-doa untuk mereka...

Kami berangkat. 16.17 Berjalan kaki dan menyeberangi sungai dengan
rakit. Berjalan kaki lagi. Jalan disini sulit sekali, kakiku masuk ke
lumpur hampir sampai ke lutut. Aku mengenakan mantel dan jaket yang
dibagikan tentara, juga dengan sepatu boot tinggi. Perlengkapan sudah
lebih baik, karena ada bantuan dari luar negeri. Peralatan dari Jepang
sangat canggih, dan tentara AS sangat terlatih untuk SAR. Team kami
sebenarnya digabung dengan beberapa relawan dari Jepang dan AS, tapi
mereka hanya jaga di posko, tidak ikut masuk ke pedalaman, katanya
karena takut dengan GAM! Beberapa kali memang kami dihadang oleh GAM di
tengah-tengah perjalanan, tapi tidak ada ansiden yang berarti.

_____________________________________________________

......Berita dari Adi hanya sampai disini, tak ada sms lagi. Telepon
genggamnya tak bisa dihubungi, sms tidak pernah sampai. Tapi aku masih
menunggunya, dengan was-was, sambil terus berusaha. Semoga surat-surat
Adi masih terus berlanjut, seperti semangatnya...Semoga...
Dan sekalipun surat-suratnya tak datang lagi, mungkin akan masih banyak
Adi-Adi lain yang sekarang tergugah dan akan meneruskan tugas ini. Tugas
berat dan perjalanan panjang yang jauh. Aku teringat dia pernah berkata,
" Hidupmu adalah milikmu, dan kamu yang berhak mengisinya sehingga
berkenan kepada Tuhan".

Dan, sungguh, sore itu aku sempatkan datang untuk misa Jumat sore di
Gereja, misa Jumat pertama. Dan seperti permintaan Adi, aku memohonkan
doa bagi mereka yang telah menjadi bagian dari hatinya selama tigabelas
hari terakhir ini. Dan aku menyalakan sebatang lilin, berlutut di
hadapan patung Bunda Maria bersama seikat bunga liar kering yang aku
persembahkan..

Tuhan, terimakasih untuk semua yang terjadi dalam dunia ini, baik dunia
di luar diriku;alam semesta, sesama, maupun dunia di dalam diriku;
hati,pikiran, dan perasaan,
Untuk kebutuhan dan rasa aman,
untuk kebahagiaan dan penderitaan,
untuk keindahan alam dan bencana alam,
untuk kelahiran dan kematian,
untuk terangnya siang dan gelapnya malam,
untuk mereka yang menyukaiku dan yang membenciku,
untuk tantangan yang menghadang
dan untuk keberhasilan dan kegagalan.

Terimakasih bahwa aku boleh mengalami semuanya ini, terutama untuk
kesadaran bahwa Engkau selalu hadir dalam semua pengalaman
itu, sekalipun pada saat-saat tertentu, aku tidak memahami rencanaMu.
Sekalipun demikian, aku ingin selalu berusaha memahami setiap
rencanaMu dalam diriku, setiap orang yang aku sayangi, semua umat
manusia, dan segala penciptaan di dunia ini.
Aku adalah milikMu dan segala milikku adalah kepunyaanMu. Amin.

dengan ingatan akan Adi,
-marge-,8 Januari 2005
=======================
Minggu, 10 Januari 2005

Dua hari aku tidak dapat menghubungimu, Mbak, baterai habis dan sinyal
tidak bagus. Sudah kuceritakan bukan, aku dan beberapa relawan lain
bergabung bersama TNI untuk mulai memasuki daerah pedalaman. Kami
berangkat menuju desa Woyla, Cot Sukon, dengan berjalan kaki. (-sampai
di sini kontak dengan Adi sempat terputus 2 hari 2 malam
lamanya,-marge). Kondisi jalan yang susah, penuh lumpur mengakibatkan
perjalanan yang ditempuh terasa sangat panjang.

Keadaan desa itu sungguh mengenaskan. Mayat-mayat masih berserakan
karena belum terjangkau dan tidak adanya kendaraan pengangkut. Bau
mayat yang sangat menyengat memaksa kami untuk memakai masker
berlapis-lapis, karena cairan busuk dari mayat-mayat adalah arsen alami
yang sangat berbahaya untuk manusia hidup! Mayat-mayat itu jumlahnya
ribuan, dan sudah begitu membusuk hingga dipenuhi belatung yang berwarna
abu-abu sebesar ulat jeruk.

Sayang tidak ada reporter ikut dengan kami. Sebenarnya team kami juga
terdiri dari tenaga relawan asing dari Jepang dan Amerika Serikat. Tapi
mereka tidak ikut berangkat ke pedalaman, dan berjaga di posko saja,
karena katanya takut pada GAM. Dan memang kami saat itu benar-benar
diserang oleh GAM, yang rupanya telah mendirikan posko gadungan untuk
menjarah barang-barang dan obat-obatan. Kita tidak akan tahu akan
keberadaan mereka. Anggota mereka berbaur dengan warga sekitar sebagai
mata-mata. Jumlah mereka banyak.

Peluru berdesingan di sekitarku, dan kami menyelamatkan diri dan masuk
ke dalam lumpur. Aku menggenggam erat rosarioku sambil terus mendaraskan
doa Salam Maria. Terjadi kontak senjata selama beberapa waktu, dan
akhirnya datang pertolongan dari tentara AS dengan helikopternya. GAM
pergi, dan kami ditolong oleh heli tersebut dan dibawa ke Kapal Induk
USS Abraham Lincoln ! Wah, pengalaman menakutkan, sekaligus pengalaman
yang menyenangkan! Baru kali itu aku mendarat dengan heli di kapal induk
USS Abraham Lincoln yang tersohor itu.(Sekaligus merasakan mandi air
panas di dalamnya! Hehehe..)

Di desa tersebut, ada ratusan orang yang sakit dan terluka.Sebagian
luka-lukanya telah membusuk, baunya menyengat dan bahkan sudah
berbelatung. Banyak dari mereka yang harus diamputasi anggota tubuhnya
karena terlambatnya perawatan. Aku baru saja menenangkan seorang anak
laki-laki berusia 8 tahun yang sedih karena kedua kakinya diamputasi
akibat luka parah yang membusuk. Dia tak bisa main sepakbola lagi.
Sebelumnya, seorang anak kecil muntah-muntah, dan dalam muntahannya itu
terdapat lumpur dan pecahan kayu-kayu kecil.

Bantuan tenaga medis dari luar sudah berdatangan, bahkan dari Mesir dan
Jerman. Tapi kami sungguh harus kerja keras, karena jumlah relawan dan
tenaga medis sangat tidak sebanding dengan jumlah mereka yang memerlukan
pengobatan, apalagi bantuan yang datang tersendat dan tidak merata. Kami
bertemu dengan seorang bapak yang membawa tas berat di bahunya. Apa
isinya? Hanya akar-akar pohon yang masih muda, sekedar untuk
menyambung hidup... Ada juga yang sudah tak mampu lagi bertahan hidup,
seperti kejadian kemarin malam, seorang ibu nekat membakar dirinya
dengan minyak tanah karena telah kehilangan 15 anggota keluarganya.
Belakangan ada juga beberapa wartawan yang ikut, tapi team peliput dari
luar negeri paling berani untuk ikut masuk ke daerah-daerah yang masih
terpencil. Sekarang aku harus menyiapkan obat-obatan dulu, karena para
pengungsi sebentar lagi akan makan siang,... dengan antrian yang
panjang sekali.

Dari sebuah pohon besar di dekat tenda pengungsi, kudapati seekor tokek
besar masih tinggal dan berbunyi sepanjang waktu, sepertinya dia ingin
berkata," Aceh bukanlah ladang wacana diskusi sebatas kosmetika bibir,
tapi sebuah tindakan darurat yang tidak perlu diperdebatkan lagi karena
kemanusiaanlah yang menjadi korban.. tokek...tokek..."



Posted By : ris-SAN-iel @ 11:15 AM | 1 comments

ALL ABOUT YOU HERE!

I am Susan, Clarissa & Daniel's mom.
Live happily in Masschusetts, USA.


:]

Y

YOUR LOVELIST HERE

I love...
tea ,coffe, blogging, travelling, internet, korean drama, beach, cheese cake, sleep, pizza, homemade sushi, asian culture, teddy bears, winnie-the-pooh.

YOUR HATELIST HERE.

Cold, humid, stress, traffic jam, alone


YOUR WISHLIST HERE.

This is a great place for your friends to know what to get you for your birthday :D
Drop a massive hint in case they don't get the purpose of this section.

Put the songs you like here? Delete this section if you don't want it.
You can also put in some background music/ just normal music!



YOUR LINKS HERE.

{} friend
{} friend
{} friend
{} friend
{} friend
{} friend
{} friend
{} friend
{} friend
{} friend
Yenny-Bali

April-Jkt

Zsa-Zsa-Sydney

Ling

Amey

Cika-Spore

Melanie-German

Susan-Sby

Rani-UK

Imelda

Neng

Lesca

Allison-California

Astri-Sydney

Ophi-German

DyDy-NY

Meylia-Boston

Lucia-Newcastle

Lia-Amherst

Rai-Jkt

Shendy-Jkt

Lina-Jkt

Angina-Jkt

Yanti-Bandung

Yuliana-Spore

ZidanSyifa-Spore

Eliza- Portland

Yohana-Canada

Heni-Madison

Widi-Jkt

Febri-Jkt

Rahmi-Jkt

Ruthy -SF

Clodi-Jkt

Patsy-Netherland

Vi3-Bywangi

Vivi-German

Intan-Norway

Yanis-Jkt

Elkaje-Jkt

Lisa-

Evancelia mom-Jkt

Khun-Jogja

Irvana-Jkt

Ian-Paris

Roro-Ofallon

Oliver-Denver

Holly-Atl

Hianoto-Smg

Lily-Sby

designer : kathleen
image : jde